Bersandar pada Roh Kudus


Yesus pernah berjanji bahwa Roh Kudus akan mengajar kita dan menolong kita (Yoh. 14:26). Ia akan mengingatkan kita pada firman Tuhan dan menerangi hati kita agar kita dapat memahami firman Tuhan. Seringkali, ketika kita mencari kehendak Tuhan, Roh Kudus membantu mengingatkan kita akan pengajaran-pengajaran tertentu dalam Alkitab yang sesuai dengan situasi kita pada saat itu. Roh Kudus juga akan memberi kita hikmat untuk mengerti bagaimana menerapkan pengajaran tersebut. Bahkan di saat-saat tertentu, Roh Kudus pun dapat berbicara langsung kepada kita dan memberitahu kita apa yang harus kita lakukan (bd. Kis. 16:6-10). Sebagai penasihat pribadi, Roh Kudus akan selalu menyertai kita di setiap waktu. Kita hanya perlu memohon petunjuk-Nya. 

Menyanyikan pujian


Menyanyikan pujian juga merupakan suatu sumber sukacita rohani yang besar (Ef. 5:19). Dengan menyanyikan pujian, Saudara dapat meringankan beban hati Saudara ketika Saudara merasa menderita atau putus asa. Bahkan dalam masa-masa yang paling sulit dan frustasi, Saudara dapat menyanyikan pujian untuk membangkitkan semangat Saudara dan memuji Tuhan (Kis. 16:25). 

Terang selalu ada bagi umat yang percaya akan Kristus


 Selalu akan ada terang di ujung lorong bagi umat Tuhan yang setia. Iman dan kepercayaan kepada Tuhan adalah kunci untuk menambal hati yang hancur (Mzm. 28:7). Ia adalah sumber penghiburan dan kekuatan yang teguh. Nabi Yeremia pernah menuliskan tentang hati Tuhan terhadap umat-Nya yang sedang menderita, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu ... yaitu rancangan-rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan ... apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati” (Yer. 29:11-13). 

Jangan putus asa ketika mengalami penderitaan


Penderitaan datang dalam berbagai bentuk. Musibah, kehilangan, penganiayaan, sakit-penyakit. Sebagai umat percaya, bukan berarti kita tidak akan mengalami penderitaan di dunia ini. Sebaliknya, justru kita telah ditetapkan untuk menderita, khususnya demi iman kepercayaan kita (1Tes. 3:3; Kis. 14:22; Mat. 24:9; Yoh. 15:18-20). Karena itu, Petrus memberikan dorongan bagi umat percaya yang tersebar de seluruh pelosok dunia, “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu” (1Ptr. 4:12). Dengan mempersiapkan diri kita, maka ketika pengujian itu datang, kita tidak akan didapati dalam keadaan tidak berjaga-jaga.

Sebagaimana api memurnikan emas, demikian pula segala pengujian itu akan memurnikan iman kita “... - yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api - sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (1Ptr. 1:7). Bilamana kenikmatan materi seringkali membuat rohani kita jatuh tertidur, maka sebaliknya pencobaan justru akan melatih kita dan membawa kita lebih dekat kepada Tuhan. Melalui pengujian, kita akan dapat membangun sifat-sifat Kristus dalam diri kita seperti ketekunan, kesabaran, kemurnian, dan belas kasihan. Selain itu pula, ketika kita harus mengalami penderitaan karena iman kita, maka sebenarnya kita pun telah mengambil bagian dalam penderitaan Kristus (1Ptr. 4:13). Tuhan mengizinkan kita mengalami penderitaan adalah untuk kebaikan kita. Bagi mereka yang mengasihi Tuhan, penderitaan selalu memiliki maksud yang baik. “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala- galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami” (2Kor. 4:17). Bila kita dapat memahami kemuliaan kekal yang akan dihasilkan oleh penderitaan itu bagi kita, maka segala pengujian kita itu akan menjadi ringan dan sementara saja sifatnya. 

Serahkanlah Segala Kekuatiran Kepada Tuhan


Serahkanlah beban Saudara kepada Tuhan, maka seperti yang dinyanyikan oleh Raja Daud, “... Ia akan memelihara engkau ...” (Mzm. 55:23). Dalam situasi-situasi yang sulit, seringkali kita lupa bahwa Tuhan ada di sisi kita. Kita begitu mudah melupakan bahwa Tuhan peduli pada kita di saat kita menderita, karena justru Tuhanlah yang seringkali kita salahkan atas penderitaan kita itu. Namun, jarang kita dapat menyadari bahwa sesungguhnya adalah suatu berkat bila kita dapat merasakan sakit, baik sakit secara fisik maupun emosional. Walaupun Tuhan tidak senang melihat kita menderita,
83
Hidup Baru Dalam Kristus
tapi Ia mengizinkan penderitaan itu datang agar rohani kita dapat menjadi dewasa. Sekalipun demikian, kita dapat selalu berlari kepada-Nya dalam kesesakan kita dan menyerahkan kepada-Nya segala kekuatiran kita karena Ia yang memelihara kita (1Ptr. 5:7). Tidak hanya Ia turut merasakan kesesakan kita, tetapi Ia juga akan melengkapi kita dengan kekuatan yang kita butuhkan (1Ptr. 5:10). Menyadari betapa besarnya kasih Tuhan itu, Paulus menyatakan kemenangannya atas segala bentuk pengujian. Tuhan, yang begitu mengasihi kita sehingga menyerahkan Anak-Nya yang tunggal, akan selalu menjadi penolong dalam kesulitan kita. Karena itu tidak ada penderitaan, sebesar apapun juga, yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan (Rm. 8:28-39). 

Mengampuni orang lain


Sebelum Tuhan mengampuni kesalahan kita, Ia menghendaki kita juga terlebih dahulu mengampuni kesalahan orang lain. Karena itu dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengingatkan bahwa bila kita ingin memohon pengampunan dari Bapa di surga, maka kita pun perlu memeriksa diri apakah kita juga telah terlebih dahulu mengampuni orang yang bersalah kepada kita (Mat. 6:12). Yesus pernah menceritakan suatu perumpamaan mengenai seorang hamba yang diampuni oleh tuannya atas hutangnya yang begitu besar. Tetapi ia justru tidak mau memaafkan seorang hamba lain yang berhutang padanya, sekalipun hutang rekannya itu jauh lebih kecil dibandingkan hutangnya yang telah dihapuskan oleh tuannya itu. Dalam perumpamaan ini Tuhan mengajarkan bahwa Bapa di surga pun akan memperlakukan setiap orang di antara kita dengan cara yang sama seperti kita memperlakukan saudara kita (Mat. 18:21-35). Jika kita dapat dengan tulus mengampuni saudara kita, maka Bapa kita pun akan mengampuni kita dari segala dosa kita. 

Pertobatan Kristen


Sama seperti dosa memisahkan Adam dan Hawa dari Pencipta mereka, demikian pula dosa dapat menghancurkan hubungan seorang umat percaya dengan Tuhan. Dalam sepanjang sejarah bangsa Israel, dosa selalu menjadi penyebab utama kejatuhannya. Nabi Yesaya memberitahukan umat mengapa Allah terasa begitu jauh dari mereka, “Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (Yes. 59:2). Persekutuan kita dengan Tuhan pun dapat menjadi seperti itu akibat dosa kita. Jika kita terus membiarkan dosa kita itu, maka lama- kelamaan hati kita akan menjadi keras dan akhirnya kita akan berpaling dari Allah yang hidup (Ibr. 3:12,13).
Sekalipun Israel telah memberontak, Allah tetap memberikan mereka suatu jalan untuk memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya. Allah berseru kepada mereka, “...Kembalilah kepada-Ku, maka Aku pun akan kembali kepadamu...” (Zak. 1:3, Mal. 3:7). Bila kita ingin menikmati kembali persekutuan kita dengan Tuhan, maka kita harus berbalik dari dosa dan kembali ke jalan Tuhan. Sebagai umat percaya yang dosa-dosanya telah dibersihkan oleh darah Kristus, kita mungkin masih melakukan dosa dalam kehidupan kita, entah dalam pikiran, perkataan, ataupun perbuatan kita. Tetapi setiap kali kita menyadari pelanggaran kita, maka kita harus belajar untuk dengan rendah hati kembali kepada Tuhan dan memohon pengampunan-Nya.